BAB
II
PEMBAHASAN
2.1 Faktor
Pendorong Keberhasilan Kewirausahaan
Banyak pendapat tentang arti daripada sukses,
bahkan sebagian besar masyarakat yang sukses itu adalah yang banyak hartanya
atau dengan kata lain orang yang kaya dengan hartanya dan ada juga bila
menduduki jabatan tertentu, sehingga sering sekali dijadikan ukuran oleh
keluarga, kelompok, atau masyarakat luas. Oleh karenanya, sering sekali
menjadikan arena untuk saling berebut dan bahkan menjadikan objek perselisihan
diantara sesama. Akibatnya, diantara para pengusaha saling bersaing yang kurang
sehat dan menganggap bahwa pesaing itu adalah musuh, implikasinya saling
menjatuhkan dan saling menekan atau dapat menimbulkan iri dan dendam.
Situasi seperti yang diuraikan diatas, sering
kita jumpai dan mendengar dengan baik dari berita melalui media massa. Nah
melalui bab ini diharapkan bagi mereka yang membaca setidaknya dapat memahami
dan bila memungkinkan mampu untuk menyosialisasikan kepada sesama, agar dapat
menumbuhkan kerjasama yang baik dan saling mendukung atau saling melengkapi
satu sama lain diantara mereka.
Pemikiran dari seorang
wirausaha yang sejati tentu memiliki perbedaan pandangan tentang keberhasilan
atau sering kita sebut sebuah kesuksesan. Sebenarnya arti dari sukses atau
berhasil tidak lebih dari apa yang diharapkan atau yang diinginkan dan biasanya
merupakan cita-cita dari setiap individu bisa terbukti atau tercapai. Jadi
sukses itu bila cita-cita terlaksana, padahal kalau kita analogikan bahwa
cita-cita atau keinginan dari setiap individu selalu berbeda dan sangat tergantung
pada wawasannya masing-masing. Oleh karena itu setiap individu memiliki visi
yang berbeda satu sama lain dan dari ungkapan harapan yang dituangkan sebagai
visi itu menjadi dasar munculnya stimulasi atau motivasi seseorang untuk mencapai
apa yang dicita-citakan. Namun, banyak pula yang mengeluh karena tidak
dicapainya cita-cita, walaupun motivasinya cukup tinggi. Hal ini justru
menjadikan fenomena yang cukup menarik untuk dikaji lebih lanjut dan munculah
sebagai pertanyaan, apa yang menyebabkan
cita-cita tidak tercapai, walaupun motivasinya cukup tinggi. Maka pengertian
dari sukses, itu dapat diformulasikan sebagai berikut: Sukses (S) adalah fungsi
dari Visi (V), Motivasi (M) dan kompetensi (K) individu dan ini suatu model
secara logika adalah sebagai berikut : S = f (V, M, K). Secara matematisnya
adalah S= V+M+K. Artinya, tercapainya suatu keberhasilan sangat tergantung
kepada visi, motivasi dan kompetensi dari setiap individu. Apabila sesorang
tidak tercapai suatu kesuksesan, kemungkinan disebabkan visinya terlalu tinggi,
sedangkan kompetensinya rendah walau motivasinya cukup tinggi. Sebenarnya
komponen tersebut saling berkaitan dan saling mendukung satu sama lain.
Terutama dalam menetapkan visi dari individu perlu memperhatikan kemampuan yang
ada pada diri kita masing-masing. Jadi jangan berpikir ingin mencapai cita-cita
setinggi langit karena tidak jelas dan kemungkinan besar tidak akan tercapai.
Adapun orang Cina selalu berpikir dalam menentukan cita-citanya disesuaikan
dengan kemampuan yang ada pada dirinya, sehingga cita-citanya selalu tercapai.
Pada dasarnya, setiap individu boleh saja dan bahkan dianjurkan untuk memiliki
atau menentukan cita-citanya, hanya perlu memerhatikan kemampuan dan jangkauan
yang memungkinkan untuk tercapai. Makna yang dapat diambil dari ungkapan bangsa
Cina itu banyak mengandung arti, yaitu tentang kedisplinan, kemampuan dalam
dalam kaitannya dalam usaha, maka sangat berkaitan dengan modal dan biaya yang
harus menjadi tanggungannya sehingga perlu pengelolaan yang lebih terstruktur
serta motivasi dengan pengertian adanya upaya dan usaha, tidak berdiam diri dan
tergantung kepada orang lain atau kepada pihak mana pun, Di sisi lain,
mengandung pengertian bahwa cita-cita tidak harus berpikir terlalu jauh dan bukan merupakan akhir dari usaha maupun
kehidupan. Jadi, cita-cita atau visi itu sebaiknya bertahap sehingga
kemungkinan untuk tercapai akan lebih mudah dan bila telah tercapai kita harus
menentukan kembali apa yang ingin dicapai selanjutnya.
Merujuk dari pengertian
keberhasilan atau sukses, maka dalam mengukur keberhasilan bagi wirausaha dapat
dibuktikan oleh prestasi dicapai, yaitu pertumbuhan dari perusahaan yang
dikelolanya. Pertumbuhan ini dibuktikan oleh penjualan, aset yang dimiliki
perusahaan, dan jumlah karyawan. Pencapaian bukan harus sekaligus dibuktikan,
melainkan tercapai keberhasilan itu dilakukan secara bertahap. Untuk meraih
keberhasilan itu, tentunya mempunyai kiat-kiat dalam menciptakan peluang usaha.
Karena tahap pemanfaatan dan pengembangan kesempatan sudah menjadi hal yang
rutin. Ide-ide inovatif seperti hal tersebut akan membantu dalam memotivasi
pengusaha yang ingin maju. Wawasan dan pengalaman praktis serta perilaku
wirausaha serta motif prestasi dan keberhasilan ini akan sangat mempengaruhi
pengusaha-pengusaha lain.
Sukses dalam berwirausaha tidak
diperoleh secara tiba-tiba atau instant dan secara kebetulan, tetapi dengan
penuh perencanaan, memiliki visi, misi, kerja keras, dan memiliki keberanian
secara bertanggung jawab. Setiap keberhasilan
seseorang tidak akan mungkin datang dengan tiba-tiba, tetapi pasti akan selalu
melalui proses yang dilakukan dan tentunya bukan dalam waktu yang singkat.
Umumnya orang melihat tanpa mengetahui apa yang pernah dilakukan atau aktivitas
apa yang dijalani oleh mereka yang dapat mencapai keberhasilan, itu semua
tentunya melalui suatu proses dan memerlukan waktu. Sebaliknya, bila terjadi
peningkatan kesejahteraan seseorang dalam waktu yang singkat justru akan
menimbulkan kecurigaan dan ini dinilai kurang baik, sehingga banyak terbukti
bahwa yang bersangkutan telah melakukan penyimpangan di jalan yang keliru,
tentunya berakibat buruk dalam menjalani kehidupannya pada masa yang akan
datang.
Seorang yang memiliki jiwa kewirausahaan
tentunya tidak akan berpikir ingin mencapai keberhasilan dalam waktu yang
singkat tanpa ada aktivitas yang dilakukannya. Oleh karena itu, tugas atau
pekerjaan yang sempurna adalah tugas yang dapat diselesaikan dengan tepat
waktu. Ini tentu saja membutuhkan energi, tetapi pekerjaan yang tidak sempurna
akan lebih menguras energi dan waktu. Oleh sebab itu, para wirausaha harus
mampu mengerjakan tugas-tugasnya dengan segera dan tidak ditunda-tunda,
termasuk memotivasi bawahan bila ada untuk melaksanakan setiap tugasnya dengan
tepat waktu. Oleh karena itu, perlu ada program kerja untuk mencapai tujuan
yang akan dicapai dalam waktu yang telah ditetapkan, termasuk pemberian
insentif bagi bawahannya bila ada.
Salah
satu bagian yang sangat penting dari setiap proses adalah menghadapi perubahan,
karena setiap saat orang dalam kehidupannya menghendaki perubahan. Demikian
pula sebagai wirausaha harus siap selalu dengan perubahan-perubahan yang
terjadi, agar tercapainya keberhasilan dalam usahanya. Setiap orang tentu
memiliki pendekatan yang berbeda terhadap perubahan.
Bila diamati secara saksama, sebenarnya
perubahan itu terjadi karena adanya pembelajaran, karena dengan pembelajaran
tentunya menambah wawasan dan biasanya orang yang ingin maju tentu akan belajar
dan kemudian mengalami perubahan pada dirinya. Demikian pula wirausaha untuk
mengubah dalam menjalani kehidupannya tentu akan melakukan pembelajaran, sebab
belajar adalah suatu proses terjadinya perubahan pada dirinya.
2.1.1 Faktor-faktor Keberhasilan Usaha
1.
Faktor-faktor keberhasilan
dalam usaha
a.
Perencanaan yang tepat dan
matang serta dapat dilaksanakan dengan baik
b.
Visi, misi dan dedikasi
yang tinggi dari usahanya
c.
Komitmen yang tinggi dalam
usaha untuk mencapai tujuan dan prestasi
d.
Dana yang cukup
e.
SDM (Sumber Dana Manusia) yang
handal
f.
Manajemen usaha yang baik,
tepat dan realistis
g.
Faktor eksternal dan
internal berupa peningkatan permintaan barang/jasa
h.
Keterampilan dan pengalaman
dalam bidang usaha
i.
Kecocokan minat terhadap
barang usaha
j.
Kebutuhan konsumen yang
terpuaskan
k.
Sarana dan prasarana
sebagai penunjang usaha
2.
Faktor-faktor lainnya:
a.
Faktor keuntungan
b.
Faktor fasilitas dan
kemudahan
c.
Faktor teknis dan
permodalan
d.
Faktor pemasaran dan
penjualan
e.
Faktor tenaga kerja dan
bahan baku
f.
Faktor persaingan dan
resiko
g.
Faktor manajemen dan
pengalaman
3.
Faktor-faktor pendukung
keberhasilan perusahaan adalah sebagai berikut:
a.
Faktor manusia
b.
Faktor keuangan
c.
Faktor organisasi
d.
Faktor perencanaan
e.
Faktor mengatur usaha
f.
Faktor pemasaran
g.
Faktor administrasi
h.
Faktor fasilitas pemerintah
4.
Catatan bisnis, menyangkut:
a.
Neraca
b.
Laporan laba/rugi
c.
Perubahan modal usaha
d.
Banyaknya karyawan
perusahaan
e.
Pemasaran dan penjualan
produk
f.
Para pesaing dan mitra
bisnisnya
g.
Para pelanggan dan konsumen
potensial
h.
Banyaknya produk persediaan
i.
Pasar yang dituju
Menurut
Darmawati (Kewirausahaan, hal.64), keberhasilan dalam kewirausahaan ditentukan
oleh tiga faktor sebagai berikut:
1.
Kemampuan dan kemauan.
Orang yang tidak memiliki kemampuan, tetapi banyak kemauan dan orang yang
memiliki kemauan, tetapi tidak memiliki kemampuan, keduanya tidak akan menjadi
wirausaha yang sukses. Sebaliknya, orang yang memiliki kemauan dilengkapi
dengan kemampuan akan menjadi orang sukses. Kemauan saja tidak cukup bila tidak
dilengkapi dengan kemampuan.
2.
Tekad yang kuat dan kerja
keras. Orang yang tidak memiliki tekad yang kuat, tetapi memiliki kemauan untuk
bekerja keras dan orang yang suka bekerja keras, tetapi tidak memiliki tekad
yang kuat, keduanya tidak akan pernah berhasil.
3.
Kesempatan dan peluang. Ada
solusi ada peluang, sebaliknya tidak ada solusi tidak akan ada peluang. Peluang
ada jika kita menciptakan peluang itu sendiri, bukan mencari-cari atau menunggu
peluang yang datang kepada kita.
Basrowi
(2011:162-163) juga mengemukakan kiat sukses berwirausaha yang bisa dijadikan
acuan bagi orang yang baru mulai berwirausaha agar usaha yang dijalankan
berhasil yaitu sebagai berikut:
1.
Ketekunan
Seorang
wirausahawan yang sukses harus memiliki ketekunan dan menjalankan usahanya.
Faktor sukses berwirausaha tidak semata-mata ditentukan oleh latar belakang
pendidikan yang dimiliki seseorang karena banyak wirausahawan yang sukses justru
tidak sukses dalam pendidikannya.
2.
Berani
mengambil resiko
Seorang
wirausahawan harus berani mengambil resiko, walaupun secara perhitungan
matematis mungkin tampak tidak menguntungkan, tetapi justru seringkali malah
menguntungkan, bahkan keuntungannya tidak sedikit, tetapi banyak sekali.
3.
Terampil
dan tidak putus asa
Seorang
wirausahawan yang sukses biasanya pernah alami kegagalan, tetapi karena tidak
mengenal putus asa dan selalu bangkit, justru meraih sukses dalam usahanya.
4.
Berdoa
Wirausahawan
yang sukses juga harus berdoa selain bekerja keras dalam menjalankan usahanya.
Sukses tidaknya usaha seseorang tidak hanya ditentukan oleh kerja keras
melainkan adanya pertolongan Tuhan Yang Maha Kuasa melalui permohonan doa dalam
menjalankan ibadah.
5.
Berani
Berubah
Seorang
wirausahawan yang sukses dalam memulai usahanya sendiri harus berani menghadapi
perubahan yang bakal mengubah seluruh hidupnya. Perubahan itu bisa pasif maupun
negatif. Seorang wirausahawan yang sukses juga harus memiliki tekad yang kuat
untuk mau berubah dan menghadapi segala tantangan yang bakal menghadapinya.
6.
Pandai
Mengelola
Wirausahawan
yang sukses adalah seseorang yang cerdas mampu mempekerjakan orang-orang yang
cerdas di bidangnya. Seorang wirausahawan juga harus pandai mengelola sumber
daya lain disamping sumber daya manusia, misalnya asset, keuangan, dan
lain-lain.
7.
Segar
dan Pintar
Sebuah
nasehat mengatakan, “Kalau badan anda segar jadilah militer; kalau otak anda
pintar jadilah professor tapi kalau badan anda segar dan otak anda pintar
jadilah wirausahaawan.”
8.
Kemauan
Terus Belajar
Seorang
wirausahawan yang sukses harus mau belajar dan keberhasilan atau kegagalan yang
dialaminya dalam menjalankan usaha, dan melakukan terobosan-terobosan yang
kreatif dan inovatif dalam usahanya itu.
Berdasarkan penjelasan di atas, pada
dasarnya dalam mengimplementasikan kegiatan bagi para wirausaha perlu
memerhatikan prosesnya untuk mencapai keberhasilan. Oleh karenanya, proses
tersebut berkaitan dengan waktu yang dibutuhkan untuk tercapainya tujuan yang
hendak dicapai. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam proses pencapai
keberhasilan, yaitu: memerlukan waktu, maka gunakan time schedule; apa yang bisa dilakukan, lakukanlah jangan
tergantung pada sesuatu yang belum jelas; selalu berfikir positif; perhatikan
aspek-aspek yang terdapat di lingkungan; peduli terhadap perubahan yang terjadi
di lingkungan; manfaatkan fasilitas yang tersedia semaksimal mungkin; dan
tentukan sistem operasional yang sesuai dengan usahanya.
2.2 Faktor- Faktor Penghambat Keberhasilan Kewirausahaan
Wirausahawan harus berhati-hati terhadap
faktor yang dapat menyebabkan kegagalan usaha setelah usaha kecil.
Penyebab-penyebab kegagalan usaha kecil di antaranya adalah:
a.
Struktur permodalan
yang kurang;
b. Kekurangan
modal untuk membeli barang modal dan peralatan;
c. Kekurangan
modal untuk memanfaatkan barang persediaan yang dijual dengan potongan
kuantitas, atau jenis potongan lainnya;
d. Menggunakan
peralatan dan metode bisnis yang ketinggalan zaman;
e. Gagal
menerapkan pengendalian persediaan;
f. Tidak
dapat melakukan pengendalian kredit;
g. Kurang
memadainya catatan akuntansi;
h. Ketiadaan
perencanaan bisnis;
i.
Ketidakmampuan
mendeteksi dan memahami perubahan pasar;
j.
Ketidakmampuan memahami
perubahan kondisi ekonomi;
k. Tidak
menyiapkan rencana untuk situasi darurat atau di luar dugaan;
l.
Ketidakmampuan
mengantisipasi dan merencanakan kebutuhan keuangan;
m. Kualifikasi
pribadi;
n. Kurangnya
pengetahuan bisnis;
o. Tidak
mau bekerja terlalu keras;
p. Tidak
mau mendelegasikan tugas dan wewenang;
q.
Ketidakmampuan
memelihara hubungan baik dengan konsumen.
Thomas
Zimmerer, dkk (2008:39-42) mengemukakan bahwa ada sepuluh kesalahan fatal
kewirausahaan yang menyebabkan sebuah bisnis yang dijalankan mengalami
kegagalan. Penyebab-penyebab kegagalan bisnis tersebut adalah sebagai berikut:
1.
Ketidakmampuan
Manajemen
Manajemen
yang buruk dalam kebanyakan perusahaan kecil menjadi penyebab utama kegagalan
bisnis. Manajer perusahaan kecil tidak memiliki kemampuan untuk menjalankannya
dengan baik. Pemilik perusahaan kurang mempunyai kemampuan kepemimpinan,
pertimbangan yang baik, dan pengetahuan yang diperlukan dalam menjalankan
bisnis. Hal yang mematikan perusahaan biasanya bukanlah ketidakcukupan modal,
bakat, atau informasi melainkan sesuatu yang lebih mendasar, yaitu kurangnya
penilaian dan pemahaman yang baik.
2.
Kurang
Pengalaman
Seorang
wirausahawan perlu memiliki pengalaman dalam bidang yang ingin dimasukinya.
Contoh: seorangn yang ingin membuka bisnis fotokopi, maka orang tersebut harus
bekerja di perusahaan distributor mesin fotokopi. Hal ini akan memberikan
pengalaman praktis yang dapat menunjukkan perbedaan antara kesuksesan dan
kegagalan.
3.
Pengendalian
Keuangan yang buruk
Manajemen
yang sehat adalah kunci keberhasilan perusahaan kecil, dan manajer yang efektif
menyadari bahwa semua keberhasilan bisnis memerlukan kendali keuangan yang
layak. Keberhasilan bisnis juga memerlukan modal dan jumlah yang cukup pada
saat awalnya. Pemilik perusahaan kecil seringkali membuat kesalahan pada awal
bisnois dengan hanya “bermodal dengkul”, yang dapat menjadi kesalahan fatal.
4.
Lemahnya
Usaha Pemasaran
Seorang
wirausahawan harus membangun basis pelanggan terus berkembang dengan melakukan
upaya pemasaran tanpa kenal lelah dan kreatif. Wirausahawan yang kreatif
menemukan cara untuk memasarkan bisnis secara efektif kepada pelanggan untuk
mencapai target penjualan.
5.
Kegagalan
Mengembankan Perencanaan Strategis
Seorang
wirausahawan pada perusahaan kecil sering kali mengabaikan proses perencanaan
strategis, karena dianggap hal tersebut hany bermanfaat bagi perusahaan
tersebut tidak memiliki dasar yang berkesinambungan untuk menciptkan dan
memilihara keunggulan bersaing di pasar . Pembangunan rencana strategis memaksa
wirausahawan untuk menilai secara realitas potensi bisnis yang direncanakan.
Apakah produk perusahaan memang diinginkan dan mampu dibeli pelanggan? Apa
dasar perusahaan agar dapat melayani kebutuhan pelanggan dengan lebih baik
dibandingkan dengan perusahaan yang telah ada?
6.
Pertumbuhan
Perusahaan yang Tidak Terkendalli
Pertumbuhan
merupakan sesuatu yang alamiah, sehat, dan didambakan oleh semua perusahaan,
tetapi pertumbuhan haruslah terencana dan terkendali. Pete Drucker menyatakan
bahwa perusahaan yang baru berdiri dapat diperkirakan mengalami pertumbuhan
terlalu pesat dibandingkan dengan basis modal yang dimiliki apabila penjualan
meningkat 40% s/d 50%. Perusahaan yang masih muda umurnya sebaiknya tidak
terburu-buru untuk melakukan ekspansi, karena keputusan ekspansi bisnis bagi
perusahaan baru dapat menyebabkan kegagalan.
7.
Lokasi
yang Buruk
Pemilihan
lokasi yang tepat, untuk bisnis apa pun, merupakan seni dan ilmu. Lokasi
perusahaan sering kali dipilih tanpa penelitian, pengamatan dan perencanaan
yang layak. Wirausahawan pemula memilih lokasi hanya karena ada tempat kosong,
tetapi masalah lokasi terlalu riskan untuk bisnis eceran, denyut jantung
kehidupan bisnis yaitu penjualan sangat dipengaruhi oleh pemilihan lokasi.
8.
Pengendalian
Persediaan yang Tidak Tepat
Investasi
terbesar yang dilakukan para pemilik usaha kecil adalah dalam persediaan, namun
pengendalian persediaan adalah salah satu tanggung jawab manajerial yang paling
diabaikan. Tingkat persediaan yang tidak mencukupi akan mengakibatkan
kekurangan dan kehabisan stok, mengakibatkan pelanggan kecewa dan pergi.
Fenomena yang sering terjadi adalah wirausahawan tidak hanya memiliki
persediaan dalam jumlah berlebih, tetapi juga mempunyai terlalu banyak
persediaan yang salah jenis.
9.
Penetapan
Harga yang Tidak Tepat
Penetapan
harga yang akan menghasilkan laba
berarti bahwa wirausahawan harus memahami besarnya biaya untuk membuat,
memasarkan, serta mendistribusikan produk dan jasa perusahaan. Wirausahawan
sering kali dengan mudah menetapkan harga berdasarkan harga yang ditetapkan
persaingan atau berdasarkan ide yang samar-samar “menjual produk terbaik dengan
harga terendah”. Wirausahawan biasanya menetapkan harga terlalu rendah atas
produk yang dijual. Tahap pertama dalam menetapkan harga yang akurat adalah
mengetahui biaya pembuatan atau penyediaan produk dan jasa. Wirausahawan
selanjutnya menetapkan harga yang dapat mencerminkan citra perusahaan yang
ingin dibangun dan selalu memerhatikan persaingan.
10.
Ketidakmampuan
Membuat “Transisi Kewirausahaan”
Keberhasilan
melewati tahap awal kewirausahaan tidak menjamin kesuksesan perusahaan.
Pertumbuhan perusahaan setelah berdiri, biasanya memerlukan perubahan drastis
manajemen, satu hal yang tidak dapat dilakukan dengan baik oleh para
wirausahawan. Kemampuan-kemampuan yang tadinya membuat wirausahawan berhasil
sering kali mengakibatkan ketidakefektifan material. Pertumbuhan mengharuskan wirausahawan
untuk mendelegasikan wewenang dan melepaskan kegiatan pengendalian sehari-hari.