Selasa, 27 November 2018

REVIEW Blackmail- Memeras selingkuhan istri

Blackmail adalah film yang ber-genre drama/thriller. Film ini berdurasi seperti kebanyakan film India lainnya tepatnya 2 jam 19 menit. Film yang bercerita tentang perselingkuhan istri sang pemeran utama ini mengakibatan pemerasan dan memakan korban. 

Cerita ini diawali dengan Dev Kaushal (Irfan Khan) yang setiap malamnya menghabiskan waktu  bermain pac man lalu mencuri foto istri para rekan kerjanya untuk memuaskan hasratnya di kantor. Scene ini menunjukkan bahwa Dev tidak bahagia dengan pernikahannya ia berupaya agar tak perlu menjalin komunikasi dengan istrinya. Suatu hari rekan kerjanya, Anand menyarankan Dev untuk memberi kejutan pada istrinya. Dev pun menyetujui usul itu dan ia yang dibuat terkejut oleh istrinya. Dev mendapati istrinya, Reena (Kirti Kulhari) sedang bersama lelaki lain di ranjang mereka. Lewat lubang kecil yang ada di dapur Dev melihat istrinya sedang berdua-an dengan seorang lelaki. Melihat ini pikiran buruk menghampiri Dev, entah ingin membunuh sang istri atau selingkuhannya. Namun Dev hanya keluar dari rumahnya dan merasa kecewa dan sedih. Setelah kembali dan mengikutn i sang pria, terungkaplah identitas sang pria ia adalah Ranjit (Arunoday Singh) suami dari Dolly Verma (Divya Dutta) putri dari keluarga yang kaya. 
Banyak pikiran yang menghampiri Dev, ia merasa rendah dan tagihan rumah pun menupuk. Dev yang terlihat tak menyukai konflik atau kekerasan pun  merasa tertekan dan munculah ide untuk memeras si pria. 

Kaget bahwa ada yang mengetahui perselingkuhan mereka, gelisah lah mereka dan kebingungan mencari uang tutup mulut tersebut. Ini adalah awal dari kekacauan yang tak terduga. Dev sang otak pemerasan ini tak punya niat apa-apa selain ingin membalas si lelaki sekaligus membayar keuangan keluarga Dev. Namun seiring berjalannya waktu, kejadian tak seperti yang ia duga banyak pihak lain yang terlibat. Uang 100,000 rupee yang ia minta pun harus digunakan untuk hal lainnya. Kejadian ini memakan korban hingga harus melibatkan polisi. 


Menurut saya film ini mengisahkan hal-hal yang memang terjadi di masyarakat. Perselingkuhan, uang suap, krisis kepercayaan meski bergenre thriller film ini nggak serius amat kok! Masih ada sisi komedi dan pembunuhan yang terjadipun tidak seserius kenyataan ditambah dengan imajinasi Dev yang membuat penonton bingung antara kenyataan dan imajinasi. Menurut saya juga cerita ini juga bikin greget dimana pemerasan terjadi terus menerus bagai lingkaran, kurang masuk akal lah. Kesel dengan si Ranjit yang bodoh, Dolly yang cinta buta dan Reena cantik-cantik tukang selingkuh dan minta duit ke Dev tanpa rasa bersalah. 

Kesan saya sih, saya kurang sreg lah sama ceritanya mungkin karena thriller nya nggak sekalian berat ya atau karena kejahatan yang dibuat Dev itu sebenarnya terlalu dilancarkan ada tantangannya tapi gampang si Dev nya lolos. Tapi cukup menghiburlah ceritanya! 

Bagi yang mau nonton sebagai hiburan boleh aja, cuma kalau yang suka nonton crime yang berat gitu yang plotnya twist bukan film ini menurut saya..

Thankyou buat yang udah baca. Mohon permaklumannya karena baru awal-awal nulis xD

Minggu, 11 November 2018

Ketika Introvert memilih jurusan guru SD

Hai sobat! Yang membuka artikel ini saya rasa mempunyai masalah yang sama seperti penulis 3 tahun lalu. Merasa diri introvert? Nggak suka jadi pusat perhatian? Lebih banyak waktu dihabiskan sendiri? Kalau bicara pun hanya sepatah dua kata. Kini mau jadi guru? Guru yang harusnya jadi pusat perhatian, pintar berkomunikasi dengan murid, maupun orang tua siswa. Serius kita bisa?

Artikel kali ini penulis akan membahas pengalaman saat awal memasuki perkuliahan sampai sekarang yang sudah berada di semester 7. 


Perlu kalian ketahui bahwa ke-introvert-an penulis sepertinya cukup parah di awal-awal namun sekarang pun belum bisa dikatakan lebih baik yaa... Pada awalnya, menjadi guru merupakan pilihan dari orang tua dan perasaan dalam diri yang mengatakan bahwa saya bisa berubah. Nah, bermodal nekat dan mau keluar dari zona aman akhirnya aku pun memberanikan diri. Awalnya tentu aja menyiksa, dari jaman sekolah diskusi selalu dihindari kini setiap saat harus berdiskusi. Mau tetep diam? Wah, nilai bisa jatuh deh.. otomatis dengan frekuensi bertanya yang awalnya hanya 2 kali untuk satu mata kuliah dalam satu semester. Kini, aku sudah bisa bertanya hampir di setiap pertemuan. Hebat bukan? Ya, itulah kalau sudah kepepet dan frustasi, kita bisa maju kok!
Sekali lagi ini aku tulis untuk kalian yang introvert nya skill sosialnya parah banget!


Nah, bukan itu saja yang buat stress awalnya, menjadi guru tentu saja praktek yang dilakukan adalah mengajar. Sumpah, masa awal ini aku stress banget lho! Nangis berkali-kali, menyesal keluar dari zona aman, tapi apa daya sudah terlanjur tercebur, sekalian aja lah! Meski satu RPP di bagi dengan teman, jadi gantian ngajar semacam team teaching gitu, tapi sensasi  grogi nya luar biasa. Belum di nasehati dosen di depan umum, malunya gimana coba. Terus pulang-pulang nangis dan mengutuk diri sendiri akibat rasa pemalu yang lekat banget dengan introvert. Yah, akhirnya berterimakasih kok sama dosennya, itu semua kan untuk kebaikan. 

Untuk para introvert yang masih pemalu banget dan yang nggak mau peka lah sama dunia sekitar, maybe you fell what i felt. Setelah itu sobat, ada namanya micro teaching, wah itu ngajar sendiri lho ke temen-temen. Awalnya di semester 1 dan 2 aku sudah takut setengah mati buat sampai di titik itu. Namun berkat latihan mengajar berkali-kali, teman-teman yang ternyata mendukung, perasaan takut berlebihan itu hilang. Hebat bukan? Memang semuanya perlu latihan. Dan akhirnya, yang awalnya kaku banget kalau ngajar, pingin ngilang dari dunia kalau udah giliran ngajar sampai di titik itu aku udah nggak ngerasa gitu lagi. Perlu kalian ketahui, bahwa semua orang pasti memiliki rasa takut itu. Namun bagi kita, berbicara di depan umum untuk jadi pusat perhatian itu menguras energi yang banyak banget apa lagi kalau nggak terbiasa, sulit banget deh! 

Tips berdasarkan pengalaman ku buat kalian itu,
1. Perbanyak latihan
Jangan takut atau mundur gara-gara praktik mengajar yang terus menerus, percaya deh kalau memang kalian pada dasarnya suka berbagi ilmu namun pemalu kalian akan terbiasa dengan perasaan takut itu. Latihan, latihan dan latih terus! Semakin banyak berlatih semakin oke. Bila perlu tambah dengan mulai mengajar ponakan atau tetangga dekat rumah. Kasih tarif murah lah, ini perlu banget loh, karena mengajar murid sesungguhnya lebih tegang daripada temen apalagi kalau di awasi ortunya. Semangat yaa!

2. Berdoa
Ini penting juga, ditengah keresahan kita. Cuma doa yang jadi penguat kita. Kita yang introvert jarang curhat ke siapa gitu. Sama orang tua juga mungkin nggak ya, jadi curhat nya ke Tuhan aja. Dan ini memang jadi kekuatan kita untuk menghadapi semua ketakutan kita.

3. Percaya Diri
Saatnya berhenti meragukan diri sendiri. Jika kamu merasa nggak berguna, kalah dengan teman-temanmu, katakan pada diri sendiri bahwa kamu masih berlatih, kamu ada di level awal berbeda dengan temanmu yang sudah berada di level lebih tinggi. Jadi jangan bandingkan levelmu dengan level dia ya.. Percayalah pada dirimu bahwa kamu bisa melakukannya, buktikan pada diri mu sendiri dan orang lain bahwa kau bisa. Jika tidak ada yang mempercayaimu maka hanya kamu yang bisa mempercayai dirimu sendiri!

4. Latih skill sosial
Sebagai guru kita dituntut untuk memiliki kompetensi sosial. Jadi coba deh ikut acara yang dimana banyak orang terlibat. Entah rekreasi bersama teman sekelas, rekreasi lingkungan tetangga atau apapun. Yang paling simpel deh, ngajak ngomong tukang lalapan atau kasir. Coba deh, pelan-pelan dilatih meski ini kesannya nggak penting tapi hal kecil ini berguna juga untuk menambah skill sosialmu. Memang kita introvert nggak suka basa-basi tapi coba deh kita dengarkan lingkungan sekitar, orang lain, selain menambah skill kita itu juga bisa menjadi hal yang berarti buat orang lain. Mereka merasa diperhatikan pula. Membuat orang lain bahagia akan membuat kita bahagia juga. Skill ini bener-bener berguna untuk masa depan kita, jadi ayo lakukan demi masa depan kita yang lebih baik! :D


Nah, sekian sobat pengalaman singkat dari ku. Tetep berusaha ya, jangan menyerah. Introvert itu menurut ku bagus kalau jadi guru. Karena kita biasanya akan sering mengintropeksi diri kita. Kelebihan ini menurut aku bagus banget untuk menjadikan kita lebih maju ke depannya. Meski awalnya pemalu dan nggak suka jadi pusat perhatian tapi ini bisa di latih kok! Semua orang memang perlu keluar dari zona nyamannya :)